Wajah Merah Sendu
Pada hari itu dimana malam kala kita pergi menyapu pemandangan malam degan motor hitam legam punya mu. Berbisik pada langit “tolongan jangan turunkan hujan mu malam ini”. Semiring angin malam yang mulai menyapu kulit. Aku ingin tidak tipikal yang tidak kuat terkena angin malam karena biasanya besok kulit ku akan bentol-bentol merah seperti terkena ulat bulu. Seperti itu selalu entah mengapa. Tapi tak apalah malam ini dengan nya lupakan soal badan yang bentol-bentol itu nanti.
Tak banyak cerita hanya perasaan nyaman dan senang malam ini berkeliling menyusuri kota dengan mu. “Oh tidak” sepertinya langit malam lebih ingin aku berada di atas kasur dengan selimut hangat dibanding aku pergi keluyur dengan pangeran hati ku, okey sudah bisa tidak yaa aku mengatakan bahwa ia pangeran hati ku saat ini? Menganggap bahwa ia adalah milik ku. Okey jangan terlarut berhalu dengan semuanya dulu. Seperti kata ku tadi langit tak berpihak mendengar doa ku. Hujan turun bahkan belum setengah jam kami berjalan.
Mari menepi sejenak di pinggir jalan di depan etalase pertokoan yang memang sudah tutup. Ahh lagi-lagi khayalan ku tentang menantang angin malam makan es krim coklat buyar seketika. Hujan bertambah lebat dengan angin sepoi khas malam yang mulai menusuk tulang. Dasar anak selimut tebal. Okey lupakan tentang jaket hangat yang akan dia berikan kepada ku seperti bayangan indah khas drama merah jambu itu dan tangan hangat yang coba menghalau dingin ini.
“kayaknya hujanya awet deh” yah mencoba sedikit percakapan dibanding hanya diam terus bisa benar-benar jadi patung es aku nantinya. “dingin yaa” ,”hmmm”. Kita dua orang yang tak pandai ber ha ha hi hi dan aku yang tetap bersemu merah dengan hanya berdiri dengan hujan lebat dan angin malam dan kamu di samping ku. Akan kan perjalanan kita akan tetap berlanjut? Tolong jangan bersendu dulu, hujan sedang turun kenapa hujan selalu melekatkan dengan yang sedih-sedih disaat dia juga sedang bersama ku berdiri bersama menatap linangan air. Kira-kira apa isi pikiran nya juga tentang senduh, tentang kami atau tentang lainnya yang terungakp.
Komentar
Posting Komentar